Entomologi forensik atau medikolegal
adalah ilmu yang mempelajari serangga
yang berhubungan dengan jasad tubuh. Pada lingkungan yang sesuai serangga akan
membentuk koloni pada
jasad tubuh beberapa
saat setelah kematian.
Perkembangan serangga seiring dengan waktu dapat digunakan untuk menentukan
waktu kematian dengan tepat.
Selasa, 04 November 2014
Karakteristik Serangga
Serangga adalah
anggota dari kelas insekta hewan tidak bertulang belakang filum artropoda.
Serangga dapat berupa lalat, nyamuk, jengkrik, kecoa, rayap, kumbang, kupu-kupu, ngengat, semut, tawon
dan lebah. Serangga dewasa biasanya dapat dibedakan dari binatang lainnya dengan beberapa ciri khas yang jelas. Hampir
beberapa di antaranya ditutupi permukaan luar yang keras disebut exoskeleton,
yang terbagi atas kepala, dada, perut, 3 pasang kaki yang menempel pada dada, 1
pasang antena di kepala, mata yang besar dan 1 atau 2 pasang sayap.
Serangga dewasa
akan menetaskan telur dan serangga yang imatur akan keluar dari telur
dan beberapa kelompok terlihat sangat mirip dengan induknya, kecuali bila
berukuran lebih kecil dan tidak punya sayap. Serangga yang imatur ini disebut
nimfa, secara periodik melepaskan
kulitnya dan bertambah besar. Nimfa
melewati fase pergantian kulit dan menunjukkan semua karakteristik
dewasa. Jangkrik, kecoa dan turunan dari beberapa serangga yang dikenal, tumbuh
perlahan-lahan seperti siklus di atas. Tetapi, beberapa serangga melewati 3 stadium yang berbeda dalam perkembangannya
yaitu telur. larva, dan pupa. Tidak satupun dari stadium ini yang menyerupai
bentuk induknya. Larva yang menetas dari telurnya, umumnya memiliki tubuh yang lunak dan menyerupai ulat bulu,
belatung. Dalam pertumbuhannya, larva melepaskan kulitnya dan bertambah besar.
Pada dasarnya, larva akan menyelubungi permukaan luar kulitnya menjadi kepompong,
yang akan menjalani stadium perkembangan sebelum dewasa. Stadium ini disebut pupa. Serangga bentuk
dewasa nantinya akan keluar dari pupa tersebut. Kupu-kupu, rayap, lalat, kumbang, dan beberapa serangga
lain berkembang dengan cara ini. Banyak dari spesies serangga yang penting dalam forensik melewati
tahap perkembangan yang terakhir ini.
Memperkirakan waktu post mortem dengan teknik entomologi
Ahli
patologi forensik menggunakan
beberapa metode yang
lazim digunakan dalam membuat perkiraan saat kematian adalah pengukuran
penurunan suhu tubuh (algor mortis), interpretasi lebam (livor mortis) dan kaku
mayat (rigor mortis), interpretasi proses
dekomposisi, pengukuran perubahan
kimia pada vitreous, interpretasi
isi dan pengosongan lambung. Akan tetapi, parameter medis tersebut sering
dipengaruhi oleh banyak
variabel lain, yang sampai
sekarang masih tidak diketahui dengan pasti dan parameter medis tersebut
dinilai sedikit atau bahkan tidak dapat dipergunakan sama sekali bila lama
kematian sudah lebih dari 72 jam. Setelah melewati waktu lebih dari 72 jam, bukti
entomologis merupakan bukti yang paling
akurat dan merupakan satu – satunya metode yang tersedia untuk menentukan lama
waktu kematian. Walaupun parameter medis
sering digunakan untuk memperkirakan lama
kematian yang baru
terjadi dalam beberapa
jam, dalam keadaan normal
serangga selalu tertarik
dengan jasad tubuh
segera setelah kematian,
sehingga serangga juga dapat digunakan dalam memperkirakan
waktu awal setelah kematian.
Aplikasi yang
paling sering dilakukan
pada entomologi adalah menentukan waktu kematian, petunjuk
adanya manipulasi pergerakan terhadap
tubuh korban, letak
luka, tanda-tanda penyiksaan,
ciri-ciri kriminalitas dan apakah korban
menggunakan obat –obatan
atau diracun. Serangga
juga dapat digunakan untuk
analisis toksikologi dan
sumber materi DNA
untuk analisa beberapa kasus
dari ektoparasit seperti nyamuk atau kutu.
Dasar penggunaan serangga sebagai indikator memperkirakan waktu kematian
Tubuh yang
membusuk merupakan mikrohabitat yang baik sebagai sumber makanan bagi beberapa organisme seperti
bakteri, jamur, hewan pemakan bangkai. Dalam hal ini serangga merupakan yang
paling dominan. Serangga yang
terdapat pada mayat biasanya menunjukkan spesies tertentu yang hidup pada daerah tertentu.
Sebagai contoh, di Hawaii, terdapat satu spesies yang hanya
ada di daerah tersebut, begitu juga di daerah tropis. Namun dengan perkembangan
zaman, perpindahan spesies dapat terjadi dengan mudah. Sehingga spesies yang
awalnya ditemukan di satu daerah, dapat ditemukan juga di daerah lain. Serangga
yang tertarik pada mayat, secara umum dapat dikategorikan menjadi empat kelompok :
1. Spesies Necrofagus
Ini merupakan spesies yang
biasanya memakan jaringan tubuh mayat. Yang termasuk dalam spesies ini Diptera (Caliiphoridae
dan Sarcophagidae) dan Coleoptera (Silphidae dan Dermestidae). Spesies dalam
kelompok ini adalah yang paling
signifikan untuk memperkirakan waktu
kematian selama stadium
awal pembusukan.
2. Parasit dan predator yang memakan spesies necrofagus
Menurut Smith,
kelompok ini adalah kelompok kedua terbanyak yang ditemukan pada
mayat.Yang termasuk kelompok ini adalah Coleoptera (Silphidae,
Staphylinidae dan Histeridae), Diptera (Calliphoridae dan Stratiomyidae) dan parasit
Hymenoptera. Larva Diptera, yang merupakan necrofagus pada awal perkembangannya
akan menjadi predator pada akhir perkembangannya.
3. Spesies Omnifora
Yang termasuk
kategori ini adalah semut, tawon dan beberapa kumbang yang memakan
jaringan tubuh mayat serta serangga tertentu. Dalam jumlah besar mereka dapat
menurunkan waktu pembusukan dengan memakan spesies necrofag.
4. Spesies lainnya
Kategori ini
termasuk spesies yang menggunakan mayat sebagai habitat mereka, seperti pada
kasus Collembola, laba-laba dan kelabang. Kategori ini meliputi Acari pada famili
Acaridae, Lardoglyphidae,Winterschmidtiida, yang memakan jamur yang tumbuh
pada mayat. Dan juga berhubungan dengan
Gamasida dan Actinedida, termasuk Macrochelidae, Parasitidae, Parholaspidae,
Cheyletidae dan Raphignathidae yang memakan kelompok
AcarinedanNematoda.
Langganan:
Postingan (Atom)