Bukti – bukti
entomologis yang diambil harus berasal dari lokasi kejadian. Pada suatu kasus
yang besar, setiap sentimeter dari lantai harus diperiksa dengan teliti dan
setiap bukti potensial harus difoto, dibuat sketsanya dan dikumpulkan. Sebelum
bukti entomologis diambil dari lokasi, lingkungan di sekitar lokasi harus
diamati dan difoto terlebih dahulu.
Deskripsi hasil
juga meliputi:
1) Daerah geografi: kota, desa, alamat jika ada, dsb
2) Tipe Habitat:
gurun, hutan, di dalam apartmen,
daerah kumuh, padang rumput dsb.
3) Area : berbatu,
pegunungan, atau dataran rendah
4) Tipe vegetasi: tanaman yang ada., jika spesifik
dikirim ke botanis
5) Tipe tanah:
berpasir, berkerikil, berlumpur, atau artificial (semen, batu-batuan dsb)
Deskripsi tentang
mayat termasuk:
1) Jenis kelamin, berat badan, tinggi badan
2) Ada atau tidaknya pakaian dan deskripsi tentang
pakaian.
3) Postur mayat: duduk, berbaring, tengkurap dsb
4) Benda benda di sekitar mayat: terbungkus, tertutup
dengan tanaman.
5) Kerusakan fisik: luka terbuka, memar dan daerah
kerusakan.
6) Penyebab
kematian
7) Stadium pembusukan
8) Serangga yang ditemukan,jika memungkinkan termasuk
fotografi lengkap.
Dicatat juga data tentang iklim yang lengkap
tiap jam. perkembangan serangga berupa aktivitas
dewasa, termasuk penetasan
telur dan perkembangan imatur. Juga
dicatat hal-hal yang
aneh ditemukan pada TKP. Jika terdapat
konsentrasi belatung, temperatur
pada setiap konsentrasi harus dihitung
dengan cara meletakkan
termometer secara perlahan
diatas konsentrasi belatung, kemudian tekan dengan lembut pada
permukaan. Hal ini akan mengakibatkan belatung – belatung bergerak disekitar
termometer sehingga mengurangi kemungkinan kerusakan pada jasad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar