Selasa, 04 November 2014

Pengumpulan bukti entomologis pada lokasi kejadian


Bukti – bukti entomologis yang diambil harus berasal dari lokasi kejadian. Pada suatu kasus yang besar, setiap sentimeter dari lantai harus diperiksa dengan teliti dan setiap bukti potensial harus difoto, dibuat sketsanya dan dikumpulkan. Sebelum bukti entomologis diambil dari lokasi, lingkungan di sekitar lokasi harus diamati dan difoto terlebih dahulu.
Deskripsi hasil juga meliputi:
1)      Daerah geografi: kota, desa, alamat jika ada, dsb
2)      Tipe Habitat:  gurun, hutan, di dalam apartmen,  daerah kumuh, padang rumput dsb.
3)       Area : berbatu, pegunungan, atau dataran rendah
4)      Tipe vegetasi: tanaman yang ada., jika spesifik dikirim ke botanis
5)      Tipe   tanah: berpasir, berkerikil, berlumpur, atau artificial (semen, batu-batuan dsb)

Deskripsi tentang mayat termasuk:
1)      Jenis kelamin, berat badan, tinggi badan    
2)      Ada atau tidaknya pakaian dan deskripsi tentang pakaian.
3)      Postur mayat: duduk, berbaring, tengkurap dsb
4)      Benda benda di sekitar mayat: terbungkus, tertutup dengan tanaman.
5)      Kerusakan fisik: luka terbuka, memar dan daerah kerusakan.
6)       Penyebab kematian
7)      Stadium pembusukan
8)      Serangga yang ditemukan,jika memungkinkan termasuk fotografi lengkap.

Dicatat juga data tentang iklim yang lengkap tiap jam. perkembangan serangga   berupa   aktivitas   dewasa,   termasuk   penetasan   telur dan perkembangan   imatur.   Juga   dicatat   hal-hal   yang   aneh   ditemukan   pada TKP. Jika   terdapat   konsentrasi   belatung,   temperatur   pada   setiap   konsentrasi harus   dihitung   dengan   cara   meletakkan   termometer   secara   perlahan   diatas konsentrasi belatung, kemudian tekan dengan lembut pada permukaan. Hal ini akan mengakibatkan belatung – belatung bergerak disekitar termometer sehingga mengurangi kemungkinan kerusakan pada jasad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar