Selasa, 04 November 2014

Memperkirakan waktu post mortem dengan teknik entomologi


Ahli   patologi   forensik   menggunakan  beberapa   metode   yang   lazim digunakan dalam membuat perkiraan saat kematian adalah pengukuran penurunan suhu tubuh (algor mortis), interpretasi lebam (livor mortis) dan kaku mayat (rigor mortis),   interpretasi   proses   dekomposisi,   pengukuran   perubahan   kimia  pada vitreous, interpretasi isi dan pengosongan lambung. Akan tetapi, parameter medis tersebut   sering   dipengaruhi   oleh   banyak   variabel   lain,   yang sampai   sekarang masih tidak diketahui dengan pasti dan parameter medis tersebut dinilai sedikit atau bahkan tidak dapat dipergunakan sama sekali bila lama kematian sudah lebih dari 72 jam. Setelah melewati waktu lebih dari 72 jam, bukti entomologis  merupakan bukti yang paling akurat dan merupakan satu – satunya metode yang tersedia untuk menentukan lama waktu kematian. Walaupun   parameter   medis   sering  digunakan   untuk memperkirakan   lama   kematian   yang   baru   terjadi   dalam   beberapa   jam,   dalam keadaan   normal   serangga   selalu   tertarik   dengan   jasad   tubuh   segera   setelah kematian, sehingga serangga juga dapat digunakan dalam memperkirakan waktu awal setelah kematian.
Aplikasi   yang   paling   sering   dilakukan   pada   entomologi   adalah menentukan waktu kematian, petunjuk adanya manipulasi  pergerakan terhadap tubuh   korban,   letak   luka,   tanda-tanda   penyiksaan,   ciri-ciri   kriminalitas dan apakah   korban   menggunakan   obat   –obatan   atau   diracun.   Serangga   juga   dapat digunakan   untuk   analisis   toksikologi   dan   sumber   materi  DNA   untuk   analisa beberapa kasus dari ektoparasit seperti nyamuk atau kutu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar