Ahli
patologi forensik menggunakan
beberapa metode yang
lazim digunakan dalam membuat perkiraan saat kematian adalah pengukuran
penurunan suhu tubuh (algor mortis), interpretasi lebam (livor mortis) dan kaku
mayat (rigor mortis), interpretasi proses
dekomposisi, pengukuran perubahan
kimia pada vitreous, interpretasi
isi dan pengosongan lambung. Akan tetapi, parameter medis tersebut sering
dipengaruhi oleh banyak
variabel lain, yang sampai
sekarang masih tidak diketahui dengan pasti dan parameter medis tersebut
dinilai sedikit atau bahkan tidak dapat dipergunakan sama sekali bila lama
kematian sudah lebih dari 72 jam. Setelah melewati waktu lebih dari 72 jam, bukti
entomologis merupakan bukti yang paling
akurat dan merupakan satu – satunya metode yang tersedia untuk menentukan lama
waktu kematian. Walaupun parameter medis
sering digunakan untuk memperkirakan lama
kematian yang baru
terjadi dalam beberapa
jam, dalam keadaan normal
serangga selalu tertarik
dengan jasad tubuh
segera setelah kematian,
sehingga serangga juga dapat digunakan dalam memperkirakan
waktu awal setelah kematian.
Aplikasi yang
paling sering dilakukan
pada entomologi adalah menentukan waktu kematian, petunjuk
adanya manipulasi pergerakan terhadap
tubuh korban, letak
luka, tanda-tanda penyiksaan,
ciri-ciri kriminalitas dan apakah korban
menggunakan obat –obatan
atau diracun. Serangga
juga dapat digunakan untuk
analisis toksikologi dan
sumber materi DNA
untuk analisa beberapa kasus
dari ektoparasit seperti nyamuk atau kutu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar