Jasad dari
suatu hewan atau
manusia merupakan sumber
nutrisi yang memfasilitasi perubahan
ekosistem yang cepat.
Dalam hitungan menit
atau bahkan detik setelah
kematian, serangga (terutama
blow flies) akan hinggap di jasad untuk membentuk koloni.
Seiring dengan proses dekomposisi, jasad
semakin tidak menarik
bagi koloni yang pertama dan menarik serangga lainnya.
Perubahan biologis, kimia dan fisik akan menarik serangga lain dan mengubah
komposisi koloni yang akan terus terjadi hingga tidak ada nutrisi yang dapat
digunakan dari jasad. Jenis serangga yang akan membentuk koloni pada jasad
dipengaruhi oleh keadaan nutrisi pada
jasad, keadaan geografis,
habitat, musim, kondisi meteorologis.
Selain itu, juga
dapat memperkirakan waktu kematian berdasarkan adanya fakta bahwa
serangga yang ditemukan
pada tubuh akan
berganti seiring berjalannya
waktu dan terjadinya proses pembusukan. Tidak hanya jenis serangga pada tubuh
mayat saja yang dapat digunakan untuk menentukan waktu kematian, jika tubuh
mayat terbaring pada tanah untuk beberapa periode waktu, serangga dan hewan
tidak bertulang belakang lainnya yang ada pada tanah di bawah mayat tersebut
juga akan berganti. Jumlah spesies akan
berkurang setelah komunitas baru dari
spesies lain berkembang.
Pengetahuan tentang kejadian
ini dapat memungkinkan para
entomologis untuk memperkirakan seberapa
lama tubuh terbaring pada lokasi
ditemukannya. Benda – benda lain yang dapat digunakan untuk kepentingan
entomologis antara lain adalah kulit larva, feses dan membrana
peritropik yang berasal dari Coleoptera : Dermestidae. Membran peritropik
memberi garis pada bagian perut dari serangga dan terbuang bersamaan ketika
serangga tersebut defekasi pada kasus – kasus terkadang dapat ditemukan
dilokasi sekitar jasad hingga bertahun – tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar