Selasa, 04 November 2014

Kolonisasi pada Jasad


Jasad   dari   suatu   hewan   atau   manusia   merupakan   sumber   nutrisi   yang memfasilitasi   perubahan   ekosistem   yang   cepat.   Dalam   hitungan   menit   atau bahkan   detik   setelah   kematian, serangga (terutama  blow flies) akan hinggap di jasad untuk membentuk  koloni.  Seiring dengan   proses   dekomposisi,   jasad   semakin   tidak   menarik   bagi   koloni   yang pertama dan menarik serangga lainnya. Perubahan biologis, kimia dan fisik akan menarik serangga lain dan mengubah komposisi koloni yang akan terus terjadi hingga tidak ada nutrisi yang dapat digunakan dari jasad. Jenis serangga yang akan membentuk koloni pada jasad dipengaruhi oleh keadaan   nutrisi   pada   jasad,   keadaan   geografis,   habitat,   musim,   kondisi meteorologis.
Selain itu, juga dapat memperkirakan waktu kematian berdasarkan adanya fakta   bahwa   serangga   yang   ditemukan   pada   tubuh   akan   berganti   seiring berjalannya waktu dan terjadinya proses pembusukan. Tidak hanya jenis serangga pada tubuh mayat saja yang dapat digunakan untuk menentukan waktu kematian, jika tubuh mayat terbaring pada tanah untuk beberapa periode waktu, serangga dan hewan tidak bertulang belakang lainnya yang ada pada tanah di bawah mayat tersebut juga akan berganti. Jumlah spesies  akan berkurang setelah  komunitas baru   dari   spesies   lain   berkembang.   Pengetahuan   tentang   kejadian   ini   dapat memungkinkan   para   entomologis   untuk   memperkirakan   seberapa   lama   tubuh terbaring pada lokasi ditemukannya. Benda – benda lain yang dapat digunakan untuk kepentingan entomologis antara lain adalah kulit larva, feses dan membrana peritropik yang berasal dari Coleoptera : Dermestidae. Membran peritropik memberi garis pada bagian perut dari serangga dan terbuang bersamaan ketika serangga tersebut defekasi pada kasus – kasus terkadang dapat ditemukan dilokasi sekitar jasad hingga bertahun – tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar